Friday, April 1, 2011

Salah Kata, Geser Makna


“Ah ini sinyal jelek banget, bikin emosi aja!”
Anda pasti pernah dengar keluhan seperti di atas. Coba perhatikan kembali kalimat tersebut, apakah ada yang kurang tepat? Dilihat secara sekilas tidak ada. Kalimat tersebut pun sudah lazim digunakan. Mari perhatikan kembali, di kalimat tersebut jelas ada sesuatu yang tidak pas. Ya, kesalahan terdapat pada kata “emosi”. Apakah Anda menyadari bahwa pemilihan kata ini tidak tepat atau sadar namun terlanjur terbiasa?
Emosi berasal dari Bahasa Inggris yaitu “emotion” yang memiliki arti suatu keadaan mental yang timbul secara spontan, singkat katanya adalah perasaan; seperti senang, sedih, marah, kesal, jijik, muak, dan lain sebagainya. Sekarang mari lihat kembali kalimat tadi, apakah kata emosi telah digunakan secara tepat? Jika merujuk kepada arti yang sebenarnya, penggunaan kata tersebut tidak tepat karena “emosi” memiliki arti yang luas dan mewakili banyak perasaan. Sedangkan makna “emosi” di kalimat tersebut lebih merujuk pada perasaan “kesal”.
Selain contoh di atas, Anda pun bisa jadi sering mendengar ucapan ini “Hey, ayo gabung jalan sama yang lain. Jangan ngeautis aja!.”  atau update status di jejaring sosial seperti ini “Jalan-jalan di mall. Ngeautis seharian.” Apakah terdapat sesuatu yang salah dengan pernyataan-pernyataan tersebut? Jelas ada.
Autisme (autism) ialah istilah untuk menunjukkan suatu gangguan dengan keadaan hilangnya kontak dengan realitas serta hubungan dengan keluarga dan hal-hal lazim lainnya dalam kehidupan. Autisme sendiri merupakan salah satu gejala dari penyakit Schizophrenia (A Historical Dictionary of Psychiatry, 2005). Jadi, bila kita gunakan kata “autis” dalam pembicaraan-pembicaraan seperti pada contoh di atas, jelas bukanlah hal yang tepat. Semua orang tentu tidak ingin dikatakan mengalami gangguan bukan? Merupakan hal yang bijak jika kita mengganti kata “autis” itu dengan kata yang lebih tepat seperti “menyendiri”.
Penggunaan kata “emosi” dan “autis” yang salah tempat bisa jadi hanya dua dari sekian banyak kesalahan penggunaan kata yang terjadi di masyarakat saat ini. Penggunaan kata yang salah tempat ini bukan hanya dilakukan oleh masyarakat awam yang tidak tahu makna yang sebenarnya, namun juga masih dilakukan oleh sebagian orang yang justru berkecimpung di dunia Psikologi, misalnya mahasiswa.
Terdapat beberapa alasan yang bisa melatarbelakangi terjadinya kesalahan penggunaan kata ini. Selain dari ketidaktahuan terhadap arti kata yang sebenarnya, sekedar ikut-ikutan atau latah agar dinilai keren, bahkan kurangnya kesadaran untuk menggunakan kata pada tempatnya. Apapun alasan yang melatarbelakangi terjadinya kesalahan penggunaan kata, hal ini tentu harus diatasi. Mengapa? Karena kesalahan ini akan menimbulkan hal-hal buruk yang tidak diinginkan untuk terjadi.
Dalam kaitannya dengan tata bahasa, kesalahan penggunaan kata akan menimbulkan pergeseran makna pada kata tersebut. Apabila kata “emosi” selalu diidentikkan dengan “marah”, maka bukan hal yang tidak mungkin bahwa nantinya makna kata “emosi” di masyarakat dan generasi-generasi mendatang akan mengerucut sehingga hanya memiliki makna “marah”. Sedangkan bagi orang-orang yang terkait khusus dengan istilah-istilah ini, entah itu mahasiswa atau praktisi di bidang Psikologi, Kedokteran, atau lainnya tentu akan menimbulkan kesan negatif, karena akan terlihat tidak profesional dan tidak “berilmu”.
Oleh karena itu, sebelum kesalahan penggunaan kata ini semakin meluas dan efek-efek negatif itu menjadi kenyataan. Alangkah baiknya jika kita mulai membiasakan diri untuk menggunakan kata-kata dengan tepat sesuai dengan makna yang sebenarnya, tidak hanya untuk istilah-istilah yang berkaitan dengan Psikologi saja, namun juga pada bidang lainnya. Seperti apa yang dikatakan pepatah “bahasa mencerminkan bangsa”, tentu kita tidak ingin bangsa kita dikenal dengan bangsa yang asal karena penggunaan kata dan istilah yang sekenanya.

No comments:

Post a Comment