Kacamata
How I see the world
Saturday, March 31, 2012
Tuesday, June 7, 2011
Pelajaran dari Skripsiih
Halo. Mumpung masih agak seger dalam ingatan nih, saya mau cerita tentang pengalaman saya mengerjakan skripsi. Saya memang bukan lulusan pertama di angkatan dan bukan juga yang terbaik, saya cuma berharap, tulisan ini bisa bermanfaat sedikit-banyak bagi yang baca (walo pengennya banyak siihh).. J
Sekian lamanya saya berakrab-akrab dengan si 7 huruf itu, saya sadari, ada beberapa hal yang berperan dalam pengerjaan skripsi tersebut. Mari kita lihat!
· Deadline: pada dasarnya, skripsi itu hampir sama kayak tugas makalah. Bedanya? Deadline. Tugas makalah pasti ada batas akhir pengumpulan, tapi skripsi? Dapat dipastikan, tidak ada. Inilah tantangannya. Semua tergantung kita. Mungkin ada beberapa dosen yang suka menentukan deadline pengumpulan revisi, tapi.. apa mahasiswa selalu nurut? Pasti ada istilah telat ngumpulin atau bolos bimbingan kan? Nahh.. maka dari itu, buatlah deadline pribadi. Kalo saya kemarenan, biasanya mulai ngerjain revisi sekitar 2 atau 3 hari sebelum deadline yang saya buat itu. Percaya deh, ini beneran membantu! J
· Partner: Punya temen satu bimbingan? Bersyukurlah. Orangnya menyenangkan dan kamu kenal baik dengan dia? sujud syukurlah! Hahaha. Ya, ini absolute, benar-benar pengalaman pribadi. Punya partner bimbingan yang bisa diajak kerja bareng, diskusi, dan lain-lain adalah semacam mukjizat dalam pengerjaan skripsi. Kenapa? Setidaknya ada empat alasan..
Pertama, kamu bisa bimbingan bareng, jadi gakan terlalu tegang atau kikuk kalo ketemu dosen.
Kedua, bisa diskusi. Diakui atau tidak, selama bimbingan pasti ada hal-hal yang kita kurang ngerti, atau benar2 ga ngerti tapi manggut2 aja biar cepet beres (iya, ini proyeksi. ;p). Nah, seberes bimbingan, kamu bisa tanya temen kamu, maksud sang dosen itu apa, dan syukur2 diskusi lebih lanjut tentang itu.
Ketiga, polisi waktu. Ya, balik lagi, karena pengerjaan skripsi gada deadline-nya, dan mematuhi janji pada diri sendiri itu terkadang jauh lebih sulit dibanding push up 100 kali, partner-mu ini akan sangat berguna jadi pengingat kamu. Secara kasat mata, si partner akan mengingatkan kamu untuk terus mengerjakan skripsi dan memacu kamu supaya menuruti apa kata D’masiv (baca: jangan menyerah. ;p). Tapi, dibalik itu, secara terselubung, apa yang dilakukan si partner akan mempengaruhi kamu. Misalkan dia bilang, “lusa aku mau ngumpulin revisi” sedangkan kamu? Alhamdulillah, membuka foldernya saja sulit. Nah, ucapan dia tentu akan jadi alarm kalo kamu udah harus balik kepada kenyataan. Hehehe..
Keempat, malaikat penolong. Yang ini plus-plus alias bonus. Bisa didapatkan kalau hubungan kalian sangat positif dan saling memahami satu sama lain atau dia luar biasa baiknya. Contohnya, kamu lagi tenggelam dengan revisian yang deadline waktunya tinggal beberapa jam lagi. Sedangkan kamu harus bikin makalah alat ukur untuk syarat sidang, dan partner kamu menawari bantuan untuk membuatkan makalah alat ukur itu. menguntungkan bukan? J)
Terus gimana kalo ga punya partner bimbingan? Cari teman lain yang kira2 bisa berperan menjadi semacam partner untukmu. Kalau tidak ada juga? Berjuanglah sendiri, itu faktor utama dan sudah lebih dari cukup. :D
· Go Socialize! : kamu merasa stuck dengan skripsimu, gak tau apa yang harus dilakukan, merasa jadi orang yang paling sedikit melakukan kemajuan, lalu berharap microsoft word mengetik sendiri selama kamu tidur. Dapat dipastikan itu gak mungkin terjadi. Jadi? Bersosialisasilah! Keluar dari kamar kosan dan pergilah ke rumah kedua para skripsiers, perpustakaan! J kenapa? Ada beberapa keuntungan. Kalau kamu merasa bosan dengan suasana kamarmu yang pasti begitu-begitu aja, perpustakaan bisa jadi tempat kedua untuk bekerja dan menulis. Tapi kalau kamu merasa perpus terlalu ramai dan bikin kamu gabisa konsentrasi, ambillah keuntungan lain. Di perpustakaan kamu bisa ketemu orang lain, temen-temen kamu, yang juga seperti kamu. Penulis skripsi. Ngobrol dan diskusilah. Dari situ pasti tau, kalo orang lain juga seperti kamu. Mereka punya kesulitan, merasa stuck dengan skripsinya, punya rasa malas, dan lain-lain. Intinya, kamu ga sendirian. Kamu bukan satu-satunya pejuang skripsi di dunia ini (ceileh). Selain itu, di sana kamu bakal ketemu dengan orang lain yang progress skripsinya lebih maju dari kamu atau mungkin lebih pintar dari kamu. Kamu bisa tanya, apa yang dulu dia lakukan saat di situasi kamu sekarang (misal: cara mengolah data, sumber teori) atau lainnya. Yang pasti, bertemu orang lain yang sama-sama sedang berjuang adalah menyenangkan.
· Menarik diri : Ini sedikit berkebalikan sama poin sebelumnya. Selama pengerjaan skripsi, mungkin ada saat-saat dimana kamu merasa lemah dan galau (kata paling hip abad ini). Pada saat itu, kamu merasa ada di titik terawan, lemah, lesu, lunglai, dan lainnya (ini karena skripsi apa anemia sih? ;D). Intinya, kamu ada di situasi yang negatif. Melihat orang lain melakukan kemajuan atau progress apapun, kamu merasa terpojokkan atau sedih. Ini wajar. Apalagi di zaman sekarang ini, dimana orang-orang membagi informasi dengan sangat leluasa entah itu via FB atau twitter. Kita yang pastinya tidak selalu dalam keadaan baik dan stabil, pasti terpengaruh oleh hal-hal tersebut. jadi, menyendirilah. Berpuasa social account-lah untuk beberapa saat. Kurangilah celah masuk informasi-informasi yang sekiranya akan “mengancam” kamu. Jagalah self esteem yang hanya satu-satunya itu agar tetap baik dan positif. Lalu kembalilah, sampai kamu merasa baik, sehat, dan kuat untuk menerima informasi apapun yang ada di luar sana. J
· Ask help! : Seberapa pintar, hebat, dan kuatnya kita, pasti tetap butuh bantuan. Jadi, jangan takut atau segan minta bantuan pada siapapun, terutama teman. Mungkin sedikit agak tidak nyaman, karena tidak ingin merepotkan orang lain atau tidak ingin “mengemis” pertolongan. Tapi, terkadang ada hal-hal yang kita tidak bisa lakukan sendiri, seperti: mengisi kuesioner penelitian sendiri. Gak mungkin kan? Hehe. Jadiiii, ketika kamu memang sudah tidak mampu, mintalah bantuan! Mungkin ada beberapa saat atau beberapa orang yang menolak atau tidak bisa membantu, bukan masalah. Berarti mereka bukan orang yang tepat. Tapi di luar semua itu, ada satu hal lain yang bisa kamu sadari, berapa nilai “pertemanan” kamu dengan orang tersebut. :D
· Imagine the results: selama mengerjakan skripsi, semangat turun naik itu pasti. Saat semangat itu tidak ada, cobalah bayangkan hal-hal yang bisa kamu dapatkan saat semua itu selesai atau setidaknya, tahapan yang akan kamu jalani setelah itu. Mulai dari bisa seminar, bikin alat ukur, bisa ambil data, forum, sidang, punya gelar di belakang nama, wisuda. Dan hal terbaik, senyum bangga orang tua. Bayangkanlah hal-hal yang baik, mood pun pasti membaik. J
· Ikhlas: Mungkin ini terkesan klise. Tapi, walau bagaimanapun, entah seberapa kuat usaha kita, ada hal-hal yang bisa terjadi di luar kehendak kita, dan di luar kontrol. Misalnya, pas kamu mau forum tiba-tiba dosenmu harus ke luar negeri jadi forummu harus ditunda? Atau responden yang mau wawancara denganmu melahirkan? Apapun itu, semua bisa terjadi, dan apa yang bisa kita lakukan selain pasrah dan ikhlas? Tidak ada. Kalau sudah berusaha, sabarlah, giliranmu pasti datang. J
Nah selesai sudah, itulah 7 hal yang saya dapat selama mengerjakan skripsi. Kalau kamu? J
Friday, April 1, 2011
Kenalan Sama Psikotes yuk!
Beberapa minggu yang lalu saya sedang mengobrol dengan dua dosen muda di kampus. Salah satu diantaranya dapat panggilan telepon di tengah-tengah obrolan, saya sedikit mendengar percakapan dosen itu. Kurang lebih seperti ini…
“Saya gabisa kasih, pak. Iya, ini menyangkut kode etik. Kan sudah saya jelaskan dan bapak juga ngerti. Memang iya ada tes yang sering muncul setiap kali psikotes, tapi tidak selalu sama………”
Sisanya saya tidak mendengar, tidak ingin mendengarkan tepatnya, karena selain saya ada urusan lain tentu itu kurang sopan. Baik. Kembali ke topik.
Dari sepotong obrolan itu saya menangkap. Oh rupanya ada seorang kenalan dosen saya yang minta diberi alat tes untuk “latihan” supaya dia bisa menghadapi psikotes atau tes psikologi yang akan dia hadapi dengan “sukses” dan hasilnya “memuaskan”. Saya senyum-senyum, karena saya sendiri beberapa kali mengalami hal itu. Saya jadi geli, karena baru sadar bahwa ternyata dosen-dosen juga masih mengalami hal seperti itu. :D
Sebenarnya sudah agak lama saya ingin menulis mengenai hal ini, tentang Psikotes yang masih kurang dipahami dengan baik oleh banyak orang. Kejadian itu jadi pencetus saya untuk merealisasikannya.
Psikotes alias Tes Psikologi. Tentu sudah banyak orang yang kenal atau akrab dengan istilah ini, bahkan sebagian besar mungkin sudah pernah mengalami yang namanya “psikotes”. Entah itu dalam rangka penjuruan di SMA, seleksi masuk perguruan tinggi, seleksi untuk dapat pekerjaan di kantor, atau mungkin menolong temannya yang mahasiswa Psikologi sebagai OP (orang yang diperiksa). :D
Tapi tampaknya belum banyak yang paham mengenai definisi dan tujuan Psikotes itu sendiri, sehingga masih saja muncul pertanyaan semacam “minta alat tes yang buat tes kerja dong..” atau lainnya. Jadi, ayo kita kenali psikotes dengan lebih dekat! J
Apa itu Psikotes?
“sebenarnya ini bukan sebuah tes, karena tidak ada kategori lulus atau tidak lulus”. Itu yang saya pelajari dari mata kuliah Psikodiagnostika di kampus. Ya. Psikotes atau Tes Psikologi tidak sama dengan tes-tes yang lain, semacam UAN, SNMPTN, TOEFL, IELTS, GMAT, dan lain sebagainya. Karena psikotes tidak bertujuan untuk mengukur kemampuan seseorang, melainkan “mengambil gambaran diri seseorang”.
Gambaran seperti apa? Banyak. Oleh karena itu banyak macamnya. Ada yang melihat sisi kepribadian, bagaimana cara seseorang berpikir, merasa, bertindak, dan hubungan sosialnya dengan lingkungan. Ada juga yang melihat potensi dalam diri, seperti potensi nalarnya, potensi berhitungnya, potensi bahasanya, dan lain-lain. Ada yang melihat minat seseorang, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, pemilihan penggunaan alat tes pun tergantung dengan tujuan penyelenggaraan psikotes itu sendiri.
Apa persiapan yang dibutuhkan sebelum mengikuti Psikotes?
Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, Psikotes tidak untuk mengukur kemampuan, tetapi mengambil gambaran diri seseorang. Jadi, tidak ada yang perlu dipersiapkan atau dipelajari. Karena apa? Karena PADA DASARNYA SEMUA ORANG BISA MENGERJAKAN PSIKOTES. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hal yang biasanya kami sarankan adalah tidurlah dengan jumlah yang cukup di malam hari dan sarapan lah sebelum mengikuti psikotes, agar badan menjadi fit dan psikotes bisa dikerjakan dengan baik sehingga hasilnya bisa menggambarkan diri anda secara optimal.
Katanya tidak ada kategori lulus atau tidak lulus, tapi banyak orang tidak diterima kerja karena gagal di psikotes. Jadi?
Dalam melamar pekerjaan, tentu seseorang melamar pada suatu posisi dan untuk menempati posisi tersebut ada kriteria-kriteria spesifik yang seharusnya dimiliki. Misalnya untuk menjadi seorang “customer service” dibutuhkan seseorang yang senang bertemu dan memberikan layanan pada orang banyak, sabar, dapat berkomunikasi dengan baik, dan lain-lain. Seperti sudah kita ketahui “psikotes itu untuk mengambil gambaran dalam diri seseorang”. Maka dalam rangka mencari dan memilih seseorang yang sesuai dengan posisi tertentu (misal: customer service tadi), dari sekian banyak orang yang melamar dicarilah seseorang dengan potensi dan kepribadian yang sesuai dengan criteria yang dibutuhkan untuk menjadi CS. Menurut pendapat saya, bukan gagal atau tidak lulus di psikotes, melainkan ada orang lain yang kepribadiannya lebih sesuai dengan yang dibutuhkan.
Di toko buku banyak buku-buku yang “mengajarkan” tentang psikotes. Berarti psikotes bisa dipelajari?
Adanya buku-buku psikotes di luaran sebetulnya merupakan hal yang kami (orang-orang yang berkecimpung dalam dunia Psikologi) sayangkan. Kenapa? Ada beberapa alasan menurut saya. Pertama, melanggar kode etik. Buku-buku di luaran menyajikan soal-soal dari alat tes tertentu, yang sebenarnya alat tes tesebut tidak boleh keluar dari lingkungan para ahli Psikologi. Sehingga adanya buku-buku tersebut dapat dikatakan mencoreng atau melukai dunia Psikologi sendiri. Kedua, buku tersebut mengajarkan pembacanya untuk menjadi orang lain. Saya pernah membaca beberapa buku psikotes yang isinya kurang lebih memberikan petunjuk apa yang harus dijawab ketika menghadapi soal-soal psikotes, tentu saja ini bukan hal yang benar. Kenapa? Setiap orang itu berbeda dan (lagi, seperti yang sudah saya jelaskan) semua orang bisa mengerjakannya. Sehingga jawaban setiap orang akan berbeda dan tidak ada standar tertentu yang menjamin seseorang lulus, karena (kembali lagi) tidak ada kategori lulus atau tidak.
Kesimpulannya, psikotes bukanlah hal yang perlu dipelajari karena tanpa membaca buku-buku psikotes pun, semua orang pasti bisa mengerjakannya.
![]() |
| Buku2 macem gini nih yang sesat.. (--.--) |
Adakah tips saat pengerjaan psikotes?
Untuk hal ini, tentu ADA. Setidaknya ada empat hal yang harus dilakukan peserta. Pertama, kalau perlu ke kamar kecil untuk buang air, lakukanlah saat istirahat atau sebelum psikotes dimulai. Untuk yang dilakukan secara kelompok, Psikotes tidak bisa dihentikan di tengah-tengah hanya untuk menunggu peserta izin. Kedua, dengarkan baik-baik apa yang disampaikan tester (penyelenggara psikotes). Ketiga, lakukan HANYA yang diperintahkan oleh tester. Keempat, jika ada yang tidak dipahami, bertanyalah pada tester saat kesempatan waktu untuk bertanya diberikan. Jika tidak paham dengan apa yang harus kita lakukan, bagaimana bisa mengerjakan dengan baik? Betul kan? ;)
Tips tambahan, jadilah diri sendiri! Kerjakan sesuai dengan keadaan diri sendiri, tidak perlu berusaha untuk menjadi orang lain yang dirasa lebih baik. Hal itu juga yang kami lakukan jika kami harus mengikuti Psikotes, walaupun kami sudah mempelajarinya. Ada pertanyaan dari salah seorang dosen yang amat berkesan bagi saya dan sangat sesuai untuk menganalogikan hal ini, kurang lebih seperti ini “Jika seseorang meminta foto kita, foto siapa yang akan kita berikan? Apakah foto kita sendiri atau foto orang lain yang lebih cantik/tampan?”. Pertanyaan itu saya maknai seperti ini “Jika kita ingin dikenali oleh orang lain, apakah kita ingin dikenali sebagai diri kita sendiri atau orang lain?”.
Sekian penjelasan saya mengenai psikotes, semoga tulisan ini bisa membantu teman-teman untuk lebih memahami psikotes.
Salah Kata, Geser Makna
“Ah ini sinyal jelek banget, bikin emosi aja!”
Anda pasti pernah dengar keluhan seperti di atas. Coba perhatikan kembali kalimat tersebut, apakah ada yang kurang tepat? Dilihat secara sekilas tidak ada. Kalimat tersebut pun sudah lazim digunakan. Mari perhatikan kembali, di kalimat tersebut jelas ada sesuatu yang tidak pas. Ya, kesalahan terdapat pada kata “emosi”. Apakah Anda menyadari bahwa pemilihan kata ini tidak tepat atau sadar namun terlanjur terbiasa?
Emosi berasal dari Bahasa Inggris yaitu “emotion” yang memiliki arti suatu keadaan mental yang timbul secara spontan, singkat katanya adalah perasaan; seperti senang, sedih, marah, kesal, jijik, muak, dan lain sebagainya. Sekarang mari lihat kembali kalimat tadi, apakah kata emosi telah digunakan secara tepat? Jika merujuk kepada arti yang sebenarnya, penggunaan kata tersebut tidak tepat karena “emosi” memiliki arti yang luas dan mewakili banyak perasaan. Sedangkan makna “emosi” di kalimat tersebut lebih merujuk pada perasaan “kesal”.
Selain contoh di atas, Anda pun bisa jadi sering mendengar ucapan ini “Hey, ayo gabung jalan sama yang lain. Jangan ngeautis aja!.” atau update status di jejaring sosial seperti ini “Jalan-jalan di mall. Ngeautis seharian.” Apakah terdapat sesuatu yang salah dengan pernyataan-pernyataan tersebut? Jelas ada.
Autisme (autism) ialah istilah untuk menunjukkan suatu gangguan dengan keadaan hilangnya kontak dengan realitas serta hubungan dengan keluarga dan hal-hal lazim lainnya dalam kehidupan. Autisme sendiri merupakan salah satu gejala dari penyakit Schizophrenia (A Historical Dictionary of Psychiatry, 2005). Jadi, bila kita gunakan kata “autis” dalam pembicaraan-pembicaraan seperti pada contoh di atas, jelas bukanlah hal yang tepat. Semua orang tentu tidak ingin dikatakan mengalami gangguan bukan? Merupakan hal yang bijak jika kita mengganti kata “autis” itu dengan kata yang lebih tepat seperti “menyendiri”.
Penggunaan kata “emosi” dan “autis” yang salah tempat bisa jadi hanya dua dari sekian banyak kesalahan penggunaan kata yang terjadi di masyarakat saat ini. Penggunaan kata yang salah tempat ini bukan hanya dilakukan oleh masyarakat awam yang tidak tahu makna yang sebenarnya, namun juga masih dilakukan oleh sebagian orang yang justru berkecimpung di dunia Psikologi, misalnya mahasiswa.
Terdapat beberapa alasan yang bisa melatarbelakangi terjadinya kesalahan penggunaan kata ini. Selain dari ketidaktahuan terhadap arti kata yang sebenarnya, sekedar ikut-ikutan atau latah agar dinilai keren, bahkan kurangnya kesadaran untuk menggunakan kata pada tempatnya. Apapun alasan yang melatarbelakangi terjadinya kesalahan penggunaan kata, hal ini tentu harus diatasi. Mengapa? Karena kesalahan ini akan menimbulkan hal-hal buruk yang tidak diinginkan untuk terjadi.
Dalam kaitannya dengan tata bahasa, kesalahan penggunaan kata akan menimbulkan pergeseran makna pada kata tersebut. Apabila kata “emosi” selalu diidentikkan dengan “marah”, maka bukan hal yang tidak mungkin bahwa nantinya makna kata “emosi” di masyarakat dan generasi-generasi mendatang akan mengerucut sehingga hanya memiliki makna “marah”. Sedangkan bagi orang-orang yang terkait khusus dengan istilah-istilah ini, entah itu mahasiswa atau praktisi di bidang Psikologi, Kedokteran, atau lainnya tentu akan menimbulkan kesan negatif, karena akan terlihat tidak profesional dan tidak “berilmu”.
Oleh karena itu, sebelum kesalahan penggunaan kata ini semakin meluas dan efek-efek negatif itu menjadi kenyataan. Alangkah baiknya jika kita mulai membiasakan diri untuk menggunakan kata-kata dengan tepat sesuai dengan makna yang sebenarnya, tidak hanya untuk istilah-istilah yang berkaitan dengan Psikologi saja, namun juga pada bidang lainnya. Seperti apa yang dikatakan pepatah “bahasa mencerminkan bangsa”, tentu kita tidak ingin bangsa kita dikenal dengan bangsa yang asal karena penggunaan kata dan istilah yang sekenanya.
Sunday, March 13, 2011
Mukadimmah
Halo. Selamat datang di “Kacamata”!!
Perkenalkan, nama saya Sarah Sartika, biasa dipanggil Sasa. Saya mahasiswa tingkat akhir jurusan Psikologi Universitas Padjadjaran, yang insya allah sebentar lagi akan bertambah 4 huruf di belakang nama. Aamiin. :D
Kacamata adalah blog kedua saya. (Dengan catatan blog di Friendster tidak masuk hitungan. Hehe.) Ya. Selain Kacamata saya punya blog di Tumblr. Apa bedanya? Dibandingkan dengan tumblr saya , Kacamata akan lebih informatif. Jika saya menuliskan unek-unek yang bersifat luapan emosi (cat: emosi berbeda dengan marah) di Tumblr, maka Kacamata akan berisi tentang pandangan atau pendapat saya tentang sesuatu. Mengapa? Sederhana, saya butuh ruang untuk menuliskan buah pikir saya dan karena saya pikir format Tumblr kurang cocok untuk menulis suatu artikel yang panjang, jadi saya butuh blog lain yang lebih sesuai.
Jujur. Saya suka nama blog ini, Kacamata. Nama yang singkat dan mudah diingat, dan bagi saya, itu adalah nama paling cocok untuk mewakili blog ini. Kenapa? Seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya, karena blog ini akan berisi tentang pandangan dan pendapat saya. Artinya, akan sangat wajar jika hal-hal yang saya tuliskan menjadi subjektif. Jadi, jika anda ingin tahu bagaimana dunia di mata saya, bacalah Kacamata.
Happy reading and enjoy! :)
Subscribe to:
Posts (Atom)

