Beberapa minggu yang lalu saya sedang mengobrol dengan dua dosen muda di kampus. Salah satu diantaranya dapat panggilan telepon di tengah-tengah obrolan, saya sedikit mendengar percakapan dosen itu. Kurang lebih seperti ini…
“Saya gabisa kasih, pak. Iya, ini menyangkut kode etik. Kan sudah saya jelaskan dan bapak juga ngerti. Memang iya ada tes yang sering muncul setiap kali psikotes, tapi tidak selalu sama………”
Sisanya saya tidak mendengar, tidak ingin mendengarkan tepatnya, karena selain saya ada urusan lain tentu itu kurang sopan. Baik. Kembali ke topik.
Dari sepotong obrolan itu saya menangkap. Oh rupanya ada seorang kenalan dosen saya yang minta diberi alat tes untuk “latihan” supaya dia bisa menghadapi psikotes atau tes psikologi yang akan dia hadapi dengan “sukses” dan hasilnya “memuaskan”. Saya senyum-senyum, karena saya sendiri beberapa kali mengalami hal itu. Saya jadi geli, karena baru sadar bahwa ternyata dosen-dosen juga masih mengalami hal seperti itu. :D
Sebenarnya sudah agak lama saya ingin menulis mengenai hal ini, tentang Psikotes yang masih kurang dipahami dengan baik oleh banyak orang. Kejadian itu jadi pencetus saya untuk merealisasikannya.
Psikotes alias Tes Psikologi. Tentu sudah banyak orang yang kenal atau akrab dengan istilah ini, bahkan sebagian besar mungkin sudah pernah mengalami yang namanya “psikotes”. Entah itu dalam rangka penjuruan di SMA, seleksi masuk perguruan tinggi, seleksi untuk dapat pekerjaan di kantor, atau mungkin menolong temannya yang mahasiswa Psikologi sebagai OP (orang yang diperiksa). :D
Tapi tampaknya belum banyak yang paham mengenai definisi dan tujuan Psikotes itu sendiri, sehingga masih saja muncul pertanyaan semacam “minta alat tes yang buat tes kerja dong..” atau lainnya. Jadi, ayo kita kenali psikotes dengan lebih dekat! J
Apa itu Psikotes?
“sebenarnya ini bukan sebuah tes, karena tidak ada kategori lulus atau tidak lulus”. Itu yang saya pelajari dari mata kuliah Psikodiagnostika di kampus. Ya. Psikotes atau Tes Psikologi tidak sama dengan tes-tes yang lain, semacam UAN, SNMPTN, TOEFL, IELTS, GMAT, dan lain sebagainya. Karena psikotes tidak bertujuan untuk mengukur kemampuan seseorang, melainkan “mengambil gambaran diri seseorang”.
Gambaran seperti apa? Banyak. Oleh karena itu banyak macamnya. Ada yang melihat sisi kepribadian, bagaimana cara seseorang berpikir, merasa, bertindak, dan hubungan sosialnya dengan lingkungan. Ada juga yang melihat potensi dalam diri, seperti potensi nalarnya, potensi berhitungnya, potensi bahasanya, dan lain-lain. Ada yang melihat minat seseorang, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, pemilihan penggunaan alat tes pun tergantung dengan tujuan penyelenggaraan psikotes itu sendiri.
Apa persiapan yang dibutuhkan sebelum mengikuti Psikotes?
Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, Psikotes tidak untuk mengukur kemampuan, tetapi mengambil gambaran diri seseorang. Jadi, tidak ada yang perlu dipersiapkan atau dipelajari. Karena apa? Karena PADA DASARNYA SEMUA ORANG BISA MENGERJAKAN PSIKOTES. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hal yang biasanya kami sarankan adalah tidurlah dengan jumlah yang cukup di malam hari dan sarapan lah sebelum mengikuti psikotes, agar badan menjadi fit dan psikotes bisa dikerjakan dengan baik sehingga hasilnya bisa menggambarkan diri anda secara optimal.
Katanya tidak ada kategori lulus atau tidak lulus, tapi banyak orang tidak diterima kerja karena gagal di psikotes. Jadi?
Dalam melamar pekerjaan, tentu seseorang melamar pada suatu posisi dan untuk menempati posisi tersebut ada kriteria-kriteria spesifik yang seharusnya dimiliki. Misalnya untuk menjadi seorang “customer service” dibutuhkan seseorang yang senang bertemu dan memberikan layanan pada orang banyak, sabar, dapat berkomunikasi dengan baik, dan lain-lain. Seperti sudah kita ketahui “psikotes itu untuk mengambil gambaran dalam diri seseorang”. Maka dalam rangka mencari dan memilih seseorang yang sesuai dengan posisi tertentu (misal: customer service tadi), dari sekian banyak orang yang melamar dicarilah seseorang dengan potensi dan kepribadian yang sesuai dengan criteria yang dibutuhkan untuk menjadi CS. Menurut pendapat saya, bukan gagal atau tidak lulus di psikotes, melainkan ada orang lain yang kepribadiannya lebih sesuai dengan yang dibutuhkan.
Di toko buku banyak buku-buku yang “mengajarkan” tentang psikotes. Berarti psikotes bisa dipelajari?
Adanya buku-buku psikotes di luaran sebetulnya merupakan hal yang kami (orang-orang yang berkecimpung dalam dunia Psikologi) sayangkan. Kenapa? Ada beberapa alasan menurut saya. Pertama, melanggar kode etik. Buku-buku di luaran menyajikan soal-soal dari alat tes tertentu, yang sebenarnya alat tes tesebut tidak boleh keluar dari lingkungan para ahli Psikologi. Sehingga adanya buku-buku tersebut dapat dikatakan mencoreng atau melukai dunia Psikologi sendiri. Kedua, buku tersebut mengajarkan pembacanya untuk menjadi orang lain. Saya pernah membaca beberapa buku psikotes yang isinya kurang lebih memberikan petunjuk apa yang harus dijawab ketika menghadapi soal-soal psikotes, tentu saja ini bukan hal yang benar. Kenapa? Setiap orang itu berbeda dan (lagi, seperti yang sudah saya jelaskan) semua orang bisa mengerjakannya. Sehingga jawaban setiap orang akan berbeda dan tidak ada standar tertentu yang menjamin seseorang lulus, karena (kembali lagi) tidak ada kategori lulus atau tidak.
Kesimpulannya, psikotes bukanlah hal yang perlu dipelajari karena tanpa membaca buku-buku psikotes pun, semua orang pasti bisa mengerjakannya.
![]() |
| Buku2 macem gini nih yang sesat.. (--.--) |
Adakah tips saat pengerjaan psikotes?
Untuk hal ini, tentu ADA. Setidaknya ada empat hal yang harus dilakukan peserta. Pertama, kalau perlu ke kamar kecil untuk buang air, lakukanlah saat istirahat atau sebelum psikotes dimulai. Untuk yang dilakukan secara kelompok, Psikotes tidak bisa dihentikan di tengah-tengah hanya untuk menunggu peserta izin. Kedua, dengarkan baik-baik apa yang disampaikan tester (penyelenggara psikotes). Ketiga, lakukan HANYA yang diperintahkan oleh tester. Keempat, jika ada yang tidak dipahami, bertanyalah pada tester saat kesempatan waktu untuk bertanya diberikan. Jika tidak paham dengan apa yang harus kita lakukan, bagaimana bisa mengerjakan dengan baik? Betul kan? ;)
Tips tambahan, jadilah diri sendiri! Kerjakan sesuai dengan keadaan diri sendiri, tidak perlu berusaha untuk menjadi orang lain yang dirasa lebih baik. Hal itu juga yang kami lakukan jika kami harus mengikuti Psikotes, walaupun kami sudah mempelajarinya. Ada pertanyaan dari salah seorang dosen yang amat berkesan bagi saya dan sangat sesuai untuk menganalogikan hal ini, kurang lebih seperti ini “Jika seseorang meminta foto kita, foto siapa yang akan kita berikan? Apakah foto kita sendiri atau foto orang lain yang lebih cantik/tampan?”. Pertanyaan itu saya maknai seperti ini “Jika kita ingin dikenali oleh orang lain, apakah kita ingin dikenali sebagai diri kita sendiri atau orang lain?”.
Sekian penjelasan saya mengenai psikotes, semoga tulisan ini bisa membantu teman-teman untuk lebih memahami psikotes.
